Beranda > Pendidikan > Prototipe Masyarakat Terdidik

Prototipe Masyarakat Terdidik

oleh Ahmad Averoz

Pendidikan dalam perkembanganya selalu mengalami suatu perubahan yang pragmatus, hal ini terjadi karena sejalan dengan perubahan-perubahan yang ada dalam filsafat pendidikan yang selalu melandasi setiap paradigma pendidikan yang ada. Di era sekarang ini pendidkan mengalami perkembangan yang sangat signifikan sekali, di antraranya bermunculan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, hal ini terjadi akibat dari adanya perkembangan intelektual pada abad 19 dan mempunyai karakteristik yang lebih kmplaek dari abad sebelumya. 1Kemunculanya di pengaruhi bebrapa sebab : pertama daerah perkembanga ilmu pengetahuan yang semakin luas di mana-mana, misalnya amerika dan rusia yang memebrkan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, serta adanya kesadaran bangsa eropa terntang filsafat India.kedua, ilmu pengetahuan yang telah menajdi kekuatan utama sejak abad 17 mengalami perluasan, khususnya di bidang geologi, biologi, kimia. Ketiga, mesin produksi yang secara pasti merubah struktur sosial. Keempat, adanya perubahan yang cepat (revolusi) baik filsafat, politik yang telah merubah sistem pemikiran tradisional.2

Ilmu pengtehuan yang terus mengalami perkembangan menuntut masyarakat untuk menciprtakan suatu inovasiu baru dalam pendidikan. Makalah ini membahas tentang tipologi sebuah masyarakat yang terdidik yang mampu menciptakan sebuah inovasi baru dalam pendidikan.

Masyarakat Terdidik

Tahun 2007 sudah saatnya pendidikan menyesuaikan dengan perkembangan globalusasi dengan tetap mengedepankan prinsip dasar suatu kebenaran yaitu sebuah fitrah yang merupakan karunia Allah SWT. Pendidikan sebgai suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan sauatu negara, rendahnya kualitas pendidikan akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Dan apabila suatu sumber daya manusia yang rendah mana mungkin sebuah negara mampu berkembang.

Sumber daya manusia yang bermutu akan menentukan kemajuan dan keberhasilan. Namun, untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia tidaklah cukup hanya dengan melihat dari kecerdasan intelektual tetapi juga harus di dukung dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Realitas menemukan bahwa banyak contoh yang menujukan tidak sedikit orang dengan kemapuan intelektual luar biasa namun gagal karena rendahnya kecerdasan emosi. Salah satu contoh kita sering menemukan dalam kehiduan sehar hari banyak orang yang pintar dalam intelegince tetapi masih banyak melakukan kecurangan-kecurangan mislanya korupsi, menipuan berkedok sms dll. Daniel Goleman, seorang tokoh psikolog dari Harvard university melaporkan hasil penelitian pada tahun 1995, bahwa tingkat intelegensi tidak menjamin kebahagiaan, kesuksesan dalam hidupnya, bahkan kebanyakan orang sukses di dunia hanya 10 % berasal dari kalangan orang yang mempunyai intelegenci tinggi, dan 50 % lebih berasal dari orang yang mampu menyeibangkan kecerdasan intelegenci, emosional dan spiritual.

Dari penelitian di atas dapat dikataka bahwa tingkat kesusksesan seseorang selama ini di pengaruhi oleh keseimbangan antara intelegenc, emosional dan spiritual. Jadi kecerdasan intelegence, spiritual dan emosional perlu di pupuk di tingkat sekolah. Permasalahan sekarang ini adalah, apakah masyarat baik itu sekolah atau keluarga sudah mencoba untuk mengembangkan ketiga kecerdasan intelegence, spiritual dan emosinal?

Sekolah selama ini lebih melihat dari intelegnci sebagai dasar kecerdasan seseorang.

Kecerdasan intelegence (IQ)

Pada awal abad 20, dunia eropa di gemparkan dengan banyaknya tes yang mampu melihat kecerdasan seseorang dengan pola ilmiah, bahkan hampir seperempat manusia ikut serta dalam tes tersebut. Tes tersebut saat ini dikataka sebagai tes IQ, Kekhasan dari pola pikir IQ terletak pada pemikiran yang rasional dan logis, dan cara berfikirnya cenderung linier, dan merupakan deviasi dari aspek formal. Manusia yang berIQ tinggi, otak dan kecerdasanya di umpamakan dengan kecangihan, untuk saat ini ada yang menyamakan dengan kecangihan komputer. Bahkan masyarakat sudah terdoktin paradigma bahwa orang yang berIQ tinggi akan menjamin kesuksesan dalam hidup, dan sebaliknya rang yang ber-IQ sedang-sedang saja atau rendah akan suram masa depanya.3

Pola pikir yang rasiona menjadi dominasi dari kecerdasan IQ dapat berbenturan dengan nilai-nilai tradisional yang emosional, termasuki nilai-nilai agama. Sehingga terjadi dekadensi dalm sebuah kebudayaan , yaitu semain jauhnya individu dan masyarakat dengan agama, itu yang menajdi kekwatiran.

Dunia pendidikan sekarang ini, pendidikan hanya mengedapankan kecerdasan intelektual dengan seabrek materi pelajaran yang harus di pahami dan di mengerti oleh peserta didik, dan hasil pembelajaran hanya di ukur dari nilai-nilai akademik. Jadi anak yang mempunyai nilai 10 atau 9 di katakana sebgai anak yang hebat, pintar bahkan cerdas. Karena segala sesuatu dapat di lihat dengan nilai-nilai rasional.

Kecerdasan Emosional (EQ)

Padahal menurut Goleman bahwa kecerdasan intelektual (IQ) sedikit saja kaitanya dengan kehidupan emosional. Menurut goleman bahwa EQ dapat sama ampuhnya, terkadang lebih ampuh daro IQ, bahkan godeman, menanfaatkan penelitian yang mengemparkan tentang otak dan perilaku.

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat

Kecerdasan Emosional menunjuk kepada suatu kemampuan untuk mengendalikan, mengorganisir dan mempergunakan emosi ke arah atau kegiatan yang mendatangkan hasil yang optimal. Dengan demikian kekuatan emosi mampu menigkatkan otak berfungsi dengan baik. Bukan berarti kecerdasan intelektual di abaikan, tetapi kecerasan emosioanl cenderung melengkapi agar menjadi satu kekuatan inhern dalam diri seseorang.

Adapun masyarakat dunia mengalami kecerdasan emosional ketika pada abad pertengahan, yaitu ketika banyaknya ajaran agama yang di salah gunakan oleh seorang pendeta, atau banyaknya kesewenagan kekuasaan pada saat itu, akhirnya masyarakat menjadi terdidik dalam emosionalnya. Marthin Luther yang mengajak masyarakat untuk memahami banhwa kondisi kesengsaraan yang mereka hadapi ketika itu di sebabkan karena kesalahan kebijakan penguasa dan pejabat gereja.

Kecerdasan Spiritual

Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001).

Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Kecerdasan ini nampak di masyarakat ketika datang utusan dari Tuhan, biasanya Tuhan mengutus Utusanya (Rasul) untuk membenarkan perilaku kehidupan masyarakat ketika itu. Kehidupan masyarakat yang selalu di luar dari pri kemanusiaaan. Jadi kedatangan Nabi dan Rasul berguna untuk membenarkan perilaku masyarakat. Dalam Hadits Nabi Muhammad SAW “ sesungguhnya aku di utus oleh Allah untuk menyempurnakan Akhlak”

Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan.

Jadi dari ketiga kecerdasan itu apabila masyarakat memahami maka bisa di katakan sebagai masyarakat terdidik. Untuk Indoensia saat ini bisa dikatakan sebagai masyarakat terdidik karena sudah banyak masayarakat Indonesia yang berprilaku baik di hadapan mamsayrakat serta emosionalnya dan yang begitu nampak adalah Intelektualnya yang sangat meningkat, berupa teknologi dan perkembangan ilmu penegtahuan.

1 Ali Maksum dan luluk Yunan Ruhendi, Paradigma pendidikan Universal di era modern dan post-modern, IRCiSoD, 2003 hlm.25

2 Bertrand Russel, History of western philosophy dalam Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhedi (London: Routledge, 1961) hlm 691

3 Sukidi, Spiritual Intelligence’, mengeser “Intelegence Quentien” dan Emotional Intelligence, KATALIS Indonesia , Vol I No 1 2000 hlm. 52

  1. mboh
    25 November 2008 pukul 12:27

    makacih banyak, artikel anda sangat membantu pacar saya

  2. zuhdifirdaus
    26 Juli 2010 pukul 20:05

    ya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: