Beranda > Uncategorized > Metode Praktis Menjadi Guru Idola dan Teladan

Metode Praktis Menjadi Guru Idola dan Teladan

“Guruku asik! Enak cara ngajarnya.”
“Guruku murah nilai!”
“Guruku galak tapi menyenangkan.”
“Ehm, guruku biasa aja tuh.”
“Guruku itu kadang lucu, kadang serius banget. Tapi saya senang.”

Ada banyak pendapat siswa tentang gurunya. Beberapa ungkapan di atas sekadar contoh bahwa siswa tentu saja mampu memberikan penilaian kepada guru. Bukan tidak menghormati guru, tetapi lontaran opini atau bahkan celotehan singkat tentang guru bisa mencerahkan. Mari berpikir lebih positif bahwa siswa hanya berupaya menyesuaikan diri lebih baik dengan gurunya. Yang berarti siswa juga belajar mengenal karakter bermacam-macam guru dan menyerap ilmu dari mereka.

Siapakah sebenarnya guru? Hanya pengajar di sekolah kah atau sekadar pahlawan tanpa tanda jasa? Tentu saja tidak demikian. Tugas pokok guru memang mengajar, atau yang dikenal sebagai proses transfer knowledge, yaitu mentransfer ilmu dan pengetahuan dari guru kepada murid. Itu sebabnya, guru, layaknya menerangi bongkahan emas dalam kegelapan malam, dapat diibaratkan sebagai pelita. Pelita yang berfungsi mencerahkan dan menerangi kegelapan. Siapakah yang ada dalam kegelapan itu? Untuk yang satu ini, tentu saja para siswa.

Guru juga berperan sebagai fasilitator, sarana membagi ilmu dan pengetahuan kepada siswa yang diajarnya. Bukan berarti siswa itu buta ilmu. Tetapi, mereka belum mengetahui secara detail ilmu pengetahuan dan perlu informasi yang lebih banyak melalui bimbingan dari guru.

Sungguh mulia apa yang dilakukan oleh guru selama ini, mengingat ujung tombak pembangunan di setiap negara terletak pada kualitas guru dalam mengajar. Di Indonesia, proses pengajaran yang terjadi biasanya dilakukan di sekolah dengan suasana formal. Guru memang menjadi sosok yang dihormati dalam sarana proses belajar mengajar. Hal ini wajar, karena sebagai guru, pasti memiliki bekal ilmu dan pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan muridnya. Pengalaman dan sumber pemikiran guru juga bisa dipastikan jauh lebih banyak dari muridnya. Maksudnya, boleh dibilang guru lebih pintar dari murid-muridnya.

Di satu sisi, guru boleh berbangga diri dengan posisinya. Sebab, dia dapat memberikan nilai berupa ilmu pengetahuan kepada anak didiknya: ilmu dengan spesifikasi dan standar tertentu dapat mereka transfer.

Orangtua, ketika memasukkan anaknya ke sekolah, pasti memunyai harapan agar anaknya mendapatkan pendidikan yang layak dan menjadi orang yang berilmu. Tujuan akhirnya, tentu saja adalah untuk masa depan si anak. Orangtua punya cita-cita yang tinggi untuk anaknya, dan guru membantu mewujudkannya.

Ralph Waldo Emerson mengungkapkan, “The man (or woman) who can make hard thigs easy it the educator.” Artinya, Orang yang bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit menjadi mudah dimengerti, atau yang sukar menjadi mudah dilakukan, itulah pendidik yang sejati.

Selanjutnya, bagaimana agar kita bisa menjadi guru idola? Kiat apa saja agar menjadi guru yang baik? Buku “Menjadi Guru Idola” karya Ahmad Zuhdi Firdaus S.Sos., I.M.Pds ini akan menjelaskannya kepada Anda secara praktis dan mudah dipahami.

Buku terbitan GEN-K Publisher ini berisi pembahasan sistematika mengajar agar menjadi idola, dijadikan suri teladan, menjadi sahabat bagi murid-muridnya, serta memberikan rumusan-rumusan metode belajar mengajar, mulai dari metode ice breaking di kelas, metode curhat, metode simulasi, metode praktik lapangan, hingga metode lesson study. http://distributor.agromedia.net/Review/metode-praktis-menjadi-guru-idola-dan-teladan.html

Metode Praktis Menjadi Guru Idola dan Teladan

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: